Rabu, 17 Desember 2008

Membuat preparat

HASIL DAN PEMBAHASAN
Struktur Histologis Hepar Fetus

Tidak ada perbedaan bermakna antara perlakuan II (dosis 26 mg/kg bb) dengan

kontrol. Pada perlakukan III (52 mg/kg bb) beberapa sel mengalami pembengkakan

dan pada perlakuan IV (104 mg/kg bb) banyak sel yang nekrosis.

Hasil pengamatan ini diperkuat pernyataan Agoes (1994) bahwa doksisiklin

dosis tinggi menyebabkan toksik hepar pada pemberian oral atau intravena. Pada

wanita hamil lebih menyebabkan kerusakan hepar. Ini mungkin karena doksisiklin

ditimbun antara lain dalam sistem retikuloendotelial hati (Ganiswara, 1995).

Selain itu golongan obat ini juga dilaporkan menyebabkan perlemakan hati

dan gagal hati (http://www.thedoctorslounge.net/pharmalounge/drugs/antibiotics/

tetracyclines/tetracycline.htm). Tanda terjadinya nekrosis hati dilaporkan juga telah

terjadi pada dosis harian 4 g intravena atau lebih (Katzung, 1989).

Doksisiklin merupakan golongan obat yang mudah melewati sawar plasenta,

sehingga karena fetus belum mempunyai enzim yang dapat memetabolisir

doksisiklin secara sempurna, maka terjadilah akumulasi obat ini dalam hepar fetus.

Toksisitas obat ini menyebabkan terjadinya nekrosis pada sel hepar fetus.

Analisis statistik dengan Kai Kuadrat terhadap nekrosis sel hepar fetus

mencit menunjukkan ada perbedaan yang bermakna mulai dari kelompok III, yakni

pemberian doksisiklin secara oral 52 mg/kg bb/hari dengan kelompok kontrol.