HASIL DAN PEMBAHASAN
Struktur Histologis Hepar Fetus
Tidak ada perbedaan bermakna antara perlakuan II (dosis 26 mg/kg bb) dengan
kontrol. Pada perlakukan III (52 mg/kg bb) beberapa sel mengalami pembengkakan
dan pada perlakuan IV (104 mg/kg bb) banyak sel yang nekrosis.
Hasil pengamatan ini diperkuat pernyataan Agoes (1994) bahwa doksisiklin
dosis tinggi menyebabkan toksik hepar pada pemberian oral atau intravena. Pada
wanita hamil lebih menyebabkan kerusakan hepar. Ini mungkin karena doksisiklin
ditimbun antara lain dalam sistem retikuloendotelial hati (Ganiswara, 1995).
Selain itu golongan obat ini juga dilaporkan menyebabkan perlemakan hati
dan gagal hati (http://www.thedoctorslounge.net/pharmalounge/drugs/antibiotics/
tetracyclines/tetracycline.htm). Tanda terjadinya nekrosis hati dilaporkan juga telah
terjadi pada dosis harian 4 g intravena atau lebih (Katzung, 1989).
Doksisiklin merupakan golongan obat yang mudah melewati sawar plasenta,
sehingga karena fetus belum mempunyai enzim yang dapat memetabolisir
doksisiklin secara sempurna, maka terjadilah akumulasi obat ini dalam hepar fetus.
Toksisitas obat ini menyebabkan terjadinya nekrosis pada sel hepar fetus.
Analisis statistik dengan Kai Kuadrat terhadap nekrosis sel hepar fetus
mencit menunjukkan ada perbedaan yang bermakna mulai dari kelompok III, yakni
pemberian doksisiklin secara oral 52 mg/kg bb/hari dengan kelompok kontrol.